Sekilas Teori SR pada Facebook
Pada pembahasan kali ini mengenai teori SR atau Stimulus-Respon. Bagi mahasiswa atau lulusan komunikasi teori ini sudah mendarah daging sampai tidak perlu dihafalkan saja sudah muncul di otak. Teori ini merupakan teori yang sangat sederhana, yakni mengenai seorang Komunikator dengan pesan tertentu yang dibalas/diumpan balik/ di Respon oleh Komunikate. Komunikator itu adalah orang yang memberi pesan, sedangkan komunikate adalah orang yang menerima pesan.
Teori ini menjelaskan betapa cepatnya komunikate merespon setiap pesan yang diterimanya. Bedanya dulu teori ini ada karena orang bertatap muka atau menyebar melalui media massa. Alhasil teori ini banyak menjelaskan mengenai pesan-pesan yang krusial yang ditanggapi cepat oleh pembacanya. Teori ini berasumsi bahwa setiap orang dapat merespon dengan cepat.
Contohnya teori SR akan otomatis dilakukan disaat seseorang menyapa lalu dibalas sapaan oleh orang yang disapa, padahal belum tentu itu adalah rekan yang dikenal. Namun mau tidak mau, suka tidak suka, orang tersebut akan meresponnya. Oleh karena itu kadang hal ini banyak memakan sisi emosionalnya dibanding logikanya, secara sederhana teori ini menganggap kurangnya seseorang dalam memperhatikan apa yang respon.
Opini saya, teori ini tentu tidak akan terjadi di dunia perkotaan, atau minimal mereka yang memiliki gadget dan internet. pasalnya semakin tinggi pendidikannya akan semakin bijak pula, dalam arti akan semakin cerdas dalam merespon sesuatu. Apalagi rasanya tidak ada yang menggunakan smartphone tanpa baca dan tulis. Asumsinya mereka lebih berpendidikan.
Kembali ke teori SR ini, secara kasar bisa dibilang orang yang masih dalam cakupan teori ini terbilang kurang cerdas dalam merespon akhirnya merespon tanpa menggunakan logikanya, namun emosionalitasnya. Ada lanjutan teori berikutnya yakni teori SOR, ada tambahan O yakni Organism yakni ada proses pemikiran sebelum merespon. Namun tetap saja dalam hal ini diasumsikan seorang komunikate tetap berada dalam kendali si komunikator.
Berkaitan dengan hal itu, menurut hemat saya, teori ini mungkin akan sulit ditemukan pada orang-orang yang menggunakan smartphone, terlebih internetnya cepat. Namun sangat disayangkan. Asumsi bahwa teori ini tidak berlaku justru kali ini malah makin terlihat nyata, adanya informasi di facebook yang belum tentu kebenarannya namun sudah di like ribuan orang dan bahkan dibagikan (share) ratusan kali, dan hal yang menajubkan adalah jumlah komentarnya yang pro kontra tak terhitung.
Teori SOR bisa digambarkan pada fenomena tersebut, dimana orang, siapapun yang mendapatkan informasi justru tidak mengutamakan logikanya, namun sisi emosionalnya. Hal ini menjadi sangat baik untuk penelitian komunikasi teknologi, selain berkaitan tentang dampak ada juga pembahasan mengenai SCOT.
Kesimpulannya orang-orang saat ini seharusnya lebih cerdas menggunakan media massa dan yang terpenting adalah dewasa berteknologi. Mungkin tulisan ini masih berupa asumsi, namun paling tidak yang sudah membaca mengerti akan teori yang nyata di depan mata. Terima kasih atas perhatiannya, salam ilmu komunikasi.
Hargai penulis secara ilmiah dengan memasukkan:
Freddy Yakob. 2015. Sekilas Teori SR pada Facebook.